Bermain dan Bekerja

Bermain, ingatkah pertama kali kita kenal dengan yang namanya bermain. Kita mungkin tidak mengingatnya lagi hari ini. Tapi kalau dipikir ternyata sudah sejak lama kita bermain. Lihatlah kepada anak kecil yang sedang digoda oleh orang tuanya, agar memperhatikan, memberi respon dan tertawa. Bukankah pada saat itu sang anak sedang bermain, bermain dengan seseorang yang mengajari dan mengajaknya bermain, orang tua. Beranjak usia, bulan ke bulan tahun ke tahun. Lalu sampai pada puncak-puncaknya bermain, di usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar dan hingga sekarang, dewasa.
Dewasa, remaja, kanak semuanya bermain. Meskipun bermain bagi dewasa dan remaja bukanlah seperti bermain pada anak-anak. Bermain gundu, goli (kelereng), petak umpet, lompat tali, dan sebagainya. Atau adakah yang masih bermain seperti itu?’ Saya kira ada, bermain dengan anak, adik, atau keponakan. Dewasa, remaja, kanak semuanya bermain. Meskipun bagi dewasa bermain adalah soal lain. Tapi bermain tetap namanya bermain, apapun permainannya, substansinya tetap sama.

Ya, bermain. Alih keadaan dari kerumitan beraktivitas menegangkan dan menyita seluruh energi. kegiatan yang sejenak merehatkan berbagai aplikasi syaraf yang berdaya dan berkapasitas tinggi. Karenanya bermain punya daya pikat tersendiri. Penat bekerja kadang terasa membebani dan ingin segera dihentikan namun lelah bermain tetap ingin dilanjutkan, seperti ada momen yang akan dilewatkan jika berhenti. Itlulah yang membuat anak-anak tak lelah-lelah jika sedang asyik bermain, pun juga kita. Intinya kegiatan bermain itu ‘fun’. Ia nya punya senyawa pemberi rasa gembira, penabur suka ria di tiap-tiap hati.

Agaknya karena rasa menyenangkan itulah bermain tak jarang membuat kita lupa. Lupa kalau waktu telah banyak tercurah pada kegiatan itu. Lupa kalau ada hal-hal lain yang juga mesti dilakukan. Lupa kalau kegiatan lain sedang menunggu kita untuk menyelesaikannya. Seperti mana anak-anak yang yang asyik dengan permainannya, lupa waktunya kalau saat itu harus tidur siang, lupa kalau itu saatnya mandi, dan saatnya pulang karena sudah sore. Sehingga terpaksa orang tua menjemput untuk pulang, kadang harus pakai lidi atau jepitan dua jari. (Wkwk pengalaman nampaknya)

Begitulah. Kalau masih anak-anak tak akan apa lah. Tak akan jadi soal dan masalah. Pikiran belum tumbuh dan tak ada tanggung jawab apa-apa bagi mereka. Bagi kanak itulah masanya, itulah dunianya saat itu. Bagi dewasa? Menghabiskan waktu untuk bermain, hingga melupakan apa-apa yang harusnya dilakukan tentunya akan membuat diri sendiri mengalami kesulitan akhirnya. Seperti fabel belalang yang kehabisan bekal dan tak punya makanan di musim gugur yang meminta bantuan pada semut.

Dalam fabelnya diceritakan, di musim gugur satu keluarga semut bersantai sambil menikmati makanan yang mereka kumpulkan selama musim panas. Seekor belalang dengan biolanya mengemis kepada si semut agar diberi makanan “apa yang kamu lakukan selama ini. Kok tidak mempersiapkan makanan menghadapi musim gugur?”. “Saya sibuk membuat lagu sehingga lupa musim panas telah berakhir” ujar si belalang. lalu si semut menggelengkan kepala dan meninggalkan belalang.

Karena asyik bermainlah belalang lupa akan hal nya yang lain, lupa kalau masanya bukan itu saja, dan kerjanya sebenarnya bukan main saja. Ada musim gugur yang akan datang, di waktu pailit untuk mendapatkan makanan, dan di waktu dia harusnya mengumpulkan makanan di musim sebelumnya. Fabel belalang dan semut tersebut seolah hendak menitipkan pesan bahwa setiap sesuatu itu ada saat-saat nya. Ada saat bermain ada saat nya bekerja, waktu nya bermain kita bermain, waktunya bekerja kita bekerja.

Lalu ada apa dengan bekerja?. Bekerja, aktivitas yang harus kita lakukan untuk hidup, dan memenuhi apa yang kita butuhkan untuk hidup tersebut. Tapi bekerja bukan semata sebatas soal itu, soal pemenuhan kebutuhan hidup duniawi, kegiatan yang harus dilakukan untuk mengisi penggerak roda raga, dan berbagai kebutuhan lainnya tapi juga kerja untuk ukhrawi kita, untuk akhir hari kita. Bekerja melaksanakan kebaikan-kebaikan seperti yang diperintahkan Nya, yang dari sana letak nilai kita.

Bekerja. Karena berbagai tuntutan hidup yang mendesak, mungkin kita harus bekerja ekstra, namun ada saatnya dimana kita melepaskan diri dari kerja-kerja yang setengah robotis tersebut. Kita adalah manusia yang setiap ruas raga kita punya hak untuk tidak mengikuti tuannya kemana melangkah, setiap ruas itu perlu istirahat. Pun begitu halnya bekerja, beramal untuk bekalan kita di sana. Allah melalui rasulnya tidak menganjurkan kita untuk beramal secara berlebihan di dalam berbagai hadits.

Sebagaimana jawaban isteri Abu darda kepada Salman yang saat itu berkunjung kerumahnya dan bertanya kenapa dia dalam keadaan lusuh “Abu Darda tidak lagi berhasrat dengan dunia”. Sewaktu Abu Darda datang membawakan Salman makanan dia berkata “makanlah! Aku sedang berpuasa. “aku tidak akan makan jika kamu ikut makan” lalu Abu Darda pun makan. Ketika malam tiba Abu Darda akan melakukan shalat tahajud Salman berkata padanya “tidurlah”. Ketika dia bangun lagi Salman juga berkata begitu. Ketika akhir malam telah tiba, Salman berkata “sekakarang bangunlah” lalu mereka melalakukan shalat secara bersama. “sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak yang harus kamu penuhi, tubuhmu punya hak yang harus kamu penuhi, keluargamu juga punya hak yang harus kamu penuhi, penuhilah hak mereka masing-masing” tukas Salman. Ketika Abu Darda mengadukan semua itu kepada rasulullah, kemudian rasulullah menjawab bahwa apa yang dikatakan Salman itu benar, dirawikan oleh Bukhari.
Bermain dan bekerja, -termasuk kerja kita untuk persiapan menuju Nya nanti- semua ada saat-saatnya. Tentunya juga dalam kadar yang semestinya, yang pasti waktu bermain seharusnya tidak lebih banyak dari waktu kita bekerja. Sebab mana yang lebih kita butuhkan sebenarnya, apalagi jika sampai waktu bermain itu melupakan kita untuk bekerja, bekerja yang sejatinya, keja kita untu mempersiapan diri kembali menuju Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s