Buku Tulis

Buku, tulisan, tempat aksara, kata-kata, serta kalimat utuh disimpul satukan. Buku, catatan ‘rapih’ tentang sebuah ‘keberadaan’. Buku, lembar terkembang tentang ilmu, keberpahaman dan makna, tempat bertanya paling baik, tidak cerewet, tidak mengatur, menggurui dan juga tidak pernah bosan. Buku, kitab tertulis penanda majunya sebuah peradaban, dan jejak-jejak hidup yang terabadikan, serta kompas bagi pejalan. Buku, tempat rehatnya jiwa dari kelelahan, telaga yang mengobati dahaga, setetes salju di pasir sahara nan gersang.

Bukankah itu yang ingin kita dapatkan dari sebuah buku? Yang menyejuk bagi jiwa, yang menyajikan apa adanya kita, dan bagaima kita. Yang mengajak, menunjuk ajari, mengingatkan, menasehatkan tentang siapa kita, dan apa yang harus kita lakukan karena siapa kita tadi. Maka amat benar kata Montaigne, fillosof dan sastrawan Perancis -dalam Horison Esai Indonesia kitab 2- “yang saya cari dalam buku-buku tak lain dari hiburan yang jujur, dan kalau saya harus belajar maka yang saya cari hanyalah ilmu yang menguraikan pengetahuan tentang diri saya, dan mengajarkan saya tentang bagai mana selayaknya mati dan bagai mana sebaiknya hidup” ungkapan luar biasa bukan?

Bagaimana selayaknya mati, bagaimana sebaiknya hidup. Bukankah dengan ilmu kita akan mengetahuinya, ilmu yang berasal dari sumber yang benar, yang tiada kita ragui lagi keabsahannya. Adalah ulama yang dengan jari jemari mereka telah mengetengahkan ilmu itu kepada kita. Mereka yang menjaga keaslian, menyusur setiap lembar Al quran dan riwayat dengan kehati-hatian dan pemahaman yang sungguh-sungguh. Mereka yang berguru, belajar, dan bersabar, menempuh jauh demi kepastian akan suatu kebenaran.

Dan ilmu itu pun berkembang, semakin kita tahu semakin kita mengenal diri dan yang menciptakan. Lihatlah, sejarah panjang ilmu-ilmu pengetahuan yang sekarang baru kita tahu pembuktiannya padahal sudah sejak lama dikabarkan Al quran dan juga sejak lama ilmuan islam (yang berilmu dan bertuhan) mengetengahkan dalam temuan dan karya mereka. Al khawarizmi, Alkindi, Abbas Ibnu Firnas, Jabir Ibnu Hayyan, Ibnu Haitam, Al zahrawi dan sejumlah nama lainnya. Karya mereka yang kemudian disadur, tapi tidak disebutkan orang-orang. Karya mereka yang jadi pelopor, pelatak dasar-dasar keilmuan yang dicatut oleh orang lain.

Para ulama, ilmuan muslim (berilmu dan bertuhan) dan buku adalah hal yang tak dapat dipisahkan. Mereka adalah cerlang sejarah kejayaan islam, juru kunci majunya peradaban Islam. Kalaulah tidak karena itu maka tidaklah banyak para ulama yang dihabisi oleh musuh Islam (khususnya di perang Salib), tidaklah karya-karya mereka yang dibumi hanguskan menjadi lautan hitam. Pembakaran dan pemusnahan jutaan buku di Baitul Hikmah, Baghdad yang merupakan pusat perpustakaan terbesar yang pernah ada, pusat penerjemahan, penelitian yang mencampur merah darah para ulama dan kaum muslimin dengan hitam tinta di aliran sungai Tigris. Pembakaran ratusan kitab ilmu pengetahuan berbahasa arab di perpustakaan Al-Hakam al-Mustansir, Cordoba, Spanyol, dan jutaan lainnya di perpustakaan-perpustakaan di Tripoli, dan Palestina.

Sungguh, ini adalah sejarah kemanusiaan yang sangat kejam. Menghabisi ulama dan buku-buku. Buku-buku yang jutaan jumlahnya itu.. bayangkan jika ada sampai sekarang betapa banyak buku itu akan di terjemahkan ke dalam banyak bahasa dunia, berapa banyak khazanah ilmu pengetahuan dan hikmah yang membangun apik peradaban, berapa banyak ilmuan dan temuan yang akan lahir dari dunia Islam. Tapi sejarah tidaklah untuk disesali, melainkan untuk dijadikan pelajaran. Dan yang perlu dilihat adalah bagiamana sekarang, tradisi apa yang ditinggalkan para ulama; menuntut ilmu, mengamalkan, dan mengabadikan ilmu itu, salah satunya dengan cara mencatat dan menuliskan.

Tentang pengabadian ilmu, China punya cerita tersendiri yang dapat diambil positifnya. Jika pernah melihat film China, meski hanya film tapi bukankah film suatu bangsa mencerminkan mentalitas, kebiasaan bangsa itu lebih dari yang tercermin lewat media artistic lainnya, begitu Freud mengatakan dan itulah kenyataannya. Film China di masa dulu khususnya silat –kungfu-, yang pemerannya masih memakai baju khas China. Dalam ceritanya apakah yang mereka cari dan perebutkan, tak lain adalah kitab yang berisi jurus-jurus rahasia ataupun juga ramuan-ramuan obat, penawar racun.

Apa hubungannya? Kita akan melihat hubungannya saat tahu kalau China unggul dalam ramuan obat-obatannya, mereka selalu mengabadikan ilmu dalam catatan, tulisan dan sejenisnya, tersebab itulah mereka bisa menelusur dan menumbuh kembangkan keahlian mereka itu. Dalam hal ini Confusius, filosof mereka pernah berkata tinta yang kabur sekalipun lebih baik dari pada ingatan yang tajam. Dan bukankah dalam Islam telah sejak lama hal itu diperintahkan. Wahyu-wahyu yang tutun, perkataan-perkataan rasulullah s.a.w tidak saja diminta oleh beliau untuk meghafalkannya tapi juga beliau minta kepada para sahabat untuk menuliskannya. Pada pelepah-pelepah kayu, tulang belulang wahyu dan perkataan itu ditorehkan. Ali bin Abi Thalib, sang sahabat rasul pun berujar -Ikatlah ilmu dengan menuliskannya-

Buku, tulisan, bukan tentang obsesi banyak orang, obsesi untuk di kenal dan dikenang, tapi tentang apa yang hendak disampaikan, apa yang dibicarakan dan kebermanfaatanya bagi kehidupan. Niatnya, begitu kalau kita simpulkan dalam bahasa yang lebih tegas. Niat yang menjadi tolak ukur nilai dari apa yang dilakukan. Yang dari sana kita menjawab dan menanggungi segala urusan, dan dari sanalah awal dari jujur tidaknya sebuah buku, tulisan.
*******
Dan Para ulama dengan karyanya (yang bisa kita lihat sekarang) telah membuktikan bahwa karena kejujuranlah karya mereka tak lekang. Jujur dalam mengutarakan, menjabarkan dan kita lihat tak satupun diantara karya para ulama yang sarat akan dan mengusung kepentingan peribadi mereka. Mereka para ulama jujur dalam menuntut ilmu, jujur dalam tujuan dan peyampaikan. Mereka yang selalu berguru, belajar, mentasmi’ dan mengajarkan. Mereka memintal ilmu dengan pemahaman, pemikiran dan kajian mendalam. Kerenanya apa yang mereka hasilkan adalah karya yang mumpuni. Setiap pengetahuan dan penemuan yang dihasilkan mengakar dalam, sehingga buku-buku itulah yang dijadikan rujukan awal oleh mereka yang namanya disebut sebagai ‘penemu’ yang lebih kita kenal sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s