Kecewa

Kekecewaaan, menjadikan sesuatu yang bukan hitung-hitungan pada awalnya menjadi sederetan hitungan. Kekecewaan, menjadikan tulusnya kebaikan berguguran disebabkan apa yang disebut, menjadikan segenap penerimaan, menjadi sederet tuntutan. Kekecewaan, ah sering kali berwajah begitu.

Semua atas nama kecewa, lalu kita mengukur dan menghitung. Mengukur berat, ringannya, besar, atau kecilnya. Menghitung seberapa banyak, atau bahkan sampai tak terhitung lagi. Mematut seberapa lama, dan berapa rentangan waktu yang telah disediakan. Kemudian kita menghimpun segala yang kita anggap sebagai pengorbanan, menyebut-nyebut jasa ‘kalau tidak karena saya, kalau tidak karena ini, dan kalau tidak karena itu’.

Dan bukankah karena kekecewaanlah kaum anshar sampai berujar resah sesama mereka atas pembagian ghanimah pada perang hunain, perang menghadapi kaum Hawazin, yang hampir seluruh ghanimah diberikan rasulullah kepada kaum mua’alaf dari musyrikin qurays. Karena kekecewaan itu pulalah sampai mereka berprasangka bahwa rasulullah akan tinggal di Makkah (sebab kita tahu pada saat itu kota Mekkah telah ditaklukan) dan tidak lagi hidup bersama mereka di Madinah dan lebih mendahulukan orang Makkah dari pada mereka.

Begitulah wajah-wajah kecewa menghinggapi, dan menghampiri hati-hati. Kecewanya kaum anshar karena merasa telah bebuat banyak, dan merasa telah sangat berperan dalam perang tersebut dibandingkan dengan kaum yang rasulullah memberikan lebih kepada mereka apa yang kasat mata ’dunia’, yang mereka, kata kaum anshar padahal nyata-nyata sempat membuat kacau peperangan dengan mundurnya ke belakang karena gentar, sebab kemengertian dan keimanan mereka yang belum tumbuh, dan memang yang dihadapi adalah kaum Hawazin yang terkenal pemberani dan ahli dalam memanah.

Kekecewaan yang tak disangka rasulullah akan terjadi pada kaum anshar itu sampai membuat rasulullah mengadakan pertemuan penting, tak ada yang boleh seorang pun dari kaum lain untuk ikut, bahkan sahabat dari kaum muhajirin pun yang sempat duduk berkumpul pada saat itu disuruh pergi karena ini adalah antara rasulullah dan kaum anshar. Rasul pada kesempatan itu bahkan mengatakan “aku datang pada kalian dalam keadaan sesat, maka Allah memberikan kalian hidayah melalui perantaraan ku, kalian dulu miskin, lalu Allah kayakan kalian, kalian dulu berpecah belah dan Allah persatukan kalian dengan perantaraanku” seketika mereka menjawab “kami berhutang budi padamu ya rasulullah” Tapi rasulullah menyuruh mereka menjawab perkataan rasulullah tersebut. “Dengan apakah kami akan menjawab wahai rasul…”

“Demi Allah wahai kaum anshar jika kalian menjawab maka kalian akan dibenarkan, ucapan kalian benar. Jawablah! “Wahai Muhammad bukankah engkau dulu datang dalam keadan didustakan, lalu kami benarkan engkau, engkau datang dalam keadaan hina dan terusir lalu kami bela engkau dan kami berikan tempat tinggal di negeri kami…” begitu rasulullah mengajarkan jawaban atasnya kepada kaum anshar. Karena perkataan itu kaum anshar lalu tertunduk malu, kemudian rasulullah menjelaskan, dan meluruskan kekeliruan dan kekecewaan mereka terhadap beliau.

Kita hari ini, meskipun berbeda tapi mengalami kekecewaan-kecewaan seperti itu, apapun bentuknya, dan seperti apapun hal yang melatarinya. Kekecewaan adalah sebuah kecenderungan bagi jiwa kita. Kekecewaan tumbuh bersama harapan yang terpendam dalam dada, dan pada apa yang tak ada dalam realita. kekecewaan adalah sebentuk penolakan terhadap apa yang ada di hadapan kita meskipun kadang kita tak selalu menyadarinya, atau kita yang tak mau megakuinya.

Karenanya rasa kecewa adalah hal yang biasa, tapi bukanlah pada tempat dan hal yang patut jika kecewa itu sampai menciderai nilai-nilai yang ada. Kita punya landasan untuk berpijak dan berpikir lebih. Bukankah begitu islam mengajarkan kepada kita. Terhadap hal-hal yang belum diketahui kebenarannya yang jadi penyebab kecewa itu kita disuruh untuk tetap berbaik sangka, terhadap apa yang sebenarnya benar-benar terjadi pun kita dianjurkan untuk berlapang dada, dan urusan kesemuanya adalah Allah tempat kembalinya.

Memang, kecewa yang dirasakan oleh seseorang tidaklah sama, juga mungkin tidak dirasakan oleh orang lainnya. Kecewa bagi kita adalah soal prinsip, kepercayaan, dan nilai yang kita pahami adanya, dan karena tak memilki nilai yang sama makanya bagi yang lain itu hal yang biasa begitu juga sebaliknya. Tapi memelihara kecewa adalah seperti belenggu yang tak terputus rantainya. Belenggu-belenggu itu begini; habis yang satu maka akan datang yang berikutnya.

Kecewa. Seperti tiada habis kita membicarakannya. Tapi yang terpenting bagi kita adalah bagaimana menetralkan rasa kecewa itu dalam hati, bukankah kita punya seribu hujjah, dan juta aksara untuk ‘menipu’ hati sendiri?. Anis Matta dalam bukunya Model Manusia Muslim mengatakan cara paling normal untuk mengatasi kekecewaan adalah dengan mengalihkan perhatian. Beliau mengatakan apa yang membuat kita kecewa dengan suatu keadaan misalnya, yang tak bisa untuk dipikirkan lagi maka alihkanlah. Tidur adalah salah satu caranya, dan kondisi apa atau efek yang kita dapati ketika bangun, apakah sedih atau gembira, maka itulah ketenangan. Intinya disini dengan teralihnya perhatian tak membuat kecewa itu betah, kecewa itu memang masih terasa tapi ia tak mendominasi di dalam diri.

Satu hal yang perlu menjadi catatan kita bersama adalah yang harus kita jaga ketika dalam keadaan kecewa, terhadap apa yang disebut mengukur dan menghitung. Ingatkah setulus apa dulu kita melakukan sesuatu, seperti apa kita ingin menjaga kemurniannya lalu kenapa harus menggugurkannya dengan kata-kata ‘kalau tidak karena saya’. kecenderungan kita memang begitu, tapi berusaha sekuatnya untuk tidak seperti itu akan lebih baik rasanya.

Pada pasal apa kita kecewa, adalah catatan yang juga penting untuk kita menelisiknya kembali. Apa yang kita kecewa mungkin adalah dunia saja, yang perkara-perkaranya membuat kita sering kali ‘lupa’. Seperti apa yang disampaikan Rasulullah ketika meluruskan kekecewaan dan kesalah pahaman dan menasehati kaum anshar tadi “apakah kalian akan marah kepadaku karena setetes nikmat dunia yang diberikan untuk melembutkan hati sebagian orang, aku telah menyerahkan islam kalian kepada kalian…….dst* dan tidakkah kalian rela mereka membawa kambing dan unta, mereka membawa dunia sedangkan kalian membawa rasulullah…*, aku bersama kalian dan mendoakan rahmat atas kalian, untuk keturunan dan cucu-cucu keturunan kalian…*”. Meskipun tidak dalam konteks yang sama tapi makna apa yang tersirat dari perkataan rasulullah tersebut, semoga dapat kita tangkap. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s