Kita dan Kata

Berawal dari kata, tergelarlah ikatan yang agung saat akad telah diucapkan, saat janji telah disimpul kokohkan. Mengikat sesuatu yang dulunya tak ada ikatan, entah dari kasta mana, dan kaum apa, tak dikenal lalu dengan kata semuanya tersatukan, dengan kata pula terjadi penghalalan yang tanpa kata dalam akad itu dulunya adalah haram. Begitulah kuatnya kata, yang meski kita menganggap kata adalah kata, hanya kata, tak lebih, tak hendak dijadikan perbuatan, dilaksanakan pun juga tidak, apa lagi dipertanggung jawabkan.

Jika kata hanyalah kata, tidak mungkin pengakuan beriman itu hanya di dalam hati dan dilaksanakan tanpa ada antara dalam keduanya; mengucapkan dengan lisan. Tak akan pernah syahadah, kesaksian itu harus diikrarkan. Jika kata hanyalah kata , tak mungkin wahyu akan diturunkan. Wahyu yang membelah dada orang-orang yang mau menerima kebenaran dan akhirnya beriman kepada Allah Rabb semesta alam. Tidak akan mungkin seorang Utbah bin Rabi’ah atau yang biasa dipanggil dengan Abul Walid, seorang cendekiawan dari pihak Qurays yang berusaha membujuk nabi agar berhenti dari dakwah beliau akan penyembahan kepada Allah semata mengatakan pada kaumnya dan bersumpah “Aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Demi Allah perkataan itu bukan syair, bukan pula sihir dan bukan pula mantra dukun. Wahai kaum Qurays taatilah aku, biarkanlah Muhammad dengan urusannya. Hal itu dikatakan setelah mendengar perkataan (wahyu) yang dibacakan oleh sang nabi kepadanya ketika itu. *Al Buthy, sirah nabawiyah.

Itulah kata, yang sebenarnya tidak hanya kata. Kata, yang makanya rasul sendiri mewanti-wanti agar menjaganya dalam sejumlah hadits “peliharalah lisanmu” “Hendaklah diam, jika tidak bisa berkata baik”. Kata, yang rasul sendiri menyifati seseorang munafik dengan kepalsuan kata yang diucapkan. Kata yang membuat seseorang dilemparkan ke dalam api Nya, neraka. Ususnya keluar, ia berputar-putar seperti kedelai yang berputar mengelilingi penggilingannya. Lalu penduduk neraka mengerumuninya dan bertanya “Hai Fulan, bukankah kau menyuruh mnegerjakan kebaikan dan melarang kemungkaran?” dia menjawab “ Ya, dulu aku menyuruh mengerjakan kebaikan tapi aku tidak melakukan kebaikan itu. Aku juga mencegah kemungkaran, tapi aku sendiri melakukan kemunkaran itu. HR. Mutafaq alaih *Ruyadushalihin jilid 1
Karenanya kata bukanlah sekedar apa yang terlepas dari tenggorokan kita tanpa kendali, dan sekenanya. Kata adalah tentang apa yang tersimpulkan dibaliknya. Kata adalah tentang kejujuran orang-orang sebelum ia masuk ke wilayah perbuatan dan dibenarkan kejujurannya oleh perbuatan itu. Kata adalah pembeda antara orang yang berilmu, yang berpikir, memahami sebelum memberi tahu, dan melakukan sebelum menyampaikan. Ia juga adalah keindahan, ‘romantika’ rasa tak terperi, yang terangkum dalam susunan aksara atau apa saja yang terungkapkan. Tapi sekaligus juga berubah jadi perih karena khianatnya seseorang dalam kata yang diucapkan, karena kata yang setajam duri, halus tapi menusuk jauh ke dalam.

Lalu bagaimana jika sejenak kita diajak berpikir, menapak tilasi, melihat ke belakang tentang kita dan kata kita, atau kita dan kata-kata yang diucapkan orang-orang. Kita dan kata yang terkadang mudah sekali untuk mengucapkan apa saja tanpa berpikir. Seolah kita sendiri yang punya lisan, hingga selalu berhak untuk berkata-kata sesuai keinginan. Kita dan kata kita yang tanpa sadar mungkin ‘membunuh’ orang secara perlahan, mematikan kuncup sebelum ia mekar berkembang. Kita dan kata kita yang ber iya-iya di dalamnya padahal dalam hati sungguh terjadi pertentangan dan pengingkaran, atau kita dan kata kita yang sering kali menyampaikan apa yang tidak perngah kita lakukan.

Dan lihatlah ke dalam, betapa kita dan kata-kata kita yang mungkin pernah sewenang-wenang. Apa lagi jika kita adalah orang yang memiliki kekuasaan, yang dengan kuasa itu kata yang kita ucapkan menjadi ‘peraturan’ dan ‘hukum’ bagi orang-orang. Berkacalah pada pemeritah kita, yang setiap katanya adalah peraturan, keputusan dan ketetapan yang sering menyeret paksa kaum lemah dalam keterbatasan yang tak sudah-sudah, yang jadi korban akan setiap ketidak adilan dan penindasan. Kata yang sering kali jadi penohok hati bagi kita yang terpinggirkan, berharap janji-janji mereka tapi palsu -tak ditunaikan-, sampai akhirnya kita lelah sendiri dengan harapan kita, dan apatis pada yang namanya harapan, padahal yang salah bukannya si harapan, tapi orang yang kita tumpangi padanya harapan itu.

Ah kata. Padahal dengannya ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Jika kita adalah orang yang mempunyai kekuasaan dengan kata kita seharusnya keadilan tertegakkan, kelayakan hidup bagi orang-orang terwujudkan. Pun juga jika kita bukan siapa-siapa, dengan kata-kata ada hati-hati yang bisa tergembirakan, ada beban yang teringankan meskipun tidak dengan tangan kita. Bukankah telah dianjurkan pada kita tentang pentingnya memberi kebahagiaan kepada sesama muslim dan menggembirakan hatinya..yang karena itu kita dianjurkan mengucapkan kata salam, dengan kata juga kita dianjurkan mengucapkan selamat atas keberhasilan-keberhasilan, dan nikmat-nikmat yang diperoleh saudara kita sesama muslim. Kata, yang kata Merry Riana (kalau tidak salah), entrepreneur muda di dalam tweet nya yang dimuat oleh Batam Pos di pojok tweet-annya orang-orang terkenal “jika bisa membahagiakan orang lain dengan kata, untuk apa kata-kata yang membuatnya menderita”.

Akhirnya ada baiknya untuk kita berpikir kembali tentang kata ini, ada sekian banyak kebahagiaan yang ditimbulkan karena kata, sebab begitu hati kita diciptakan menyukai perkataan yang baik lagi membaikkan, yang kita sendiri mungkin pernah mendapatkan kata yang demi mendengarnya serasa genap saja hidup, tanpa terkurang sesuatu apapun karena kebahagiaan yang kita rasakan, sekalipun mungkin amatlah pedih penghidupan yang sedang berjalan. Tapi hal tersebut tidaklah berarti kita harus memolesi kata-kata kita agar terdengar manis tapi di hati sebenanya berlawanan.

Dan ingatkah kita pada kata yang difirmankan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman yang merasa sedih atas penindasan-penindasan yang dilakukan oleh kaum kuffar atas iman mereka, untuk menghibur mereka “Janganlah kamu takut dan bersedih hati”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s