Merantau

Entah karena alasan apa, barangkali kita harus merantau. Merantau ke daerah yang baru, daerah yang belum terjajaki sebelumnya. Daerah berbeda yang sama sekali asing. Daerah dengan orang-orang baru dan adat istiadatnya, kebiasaan dan polah hidupnya. Mengukir jejak-jejak hidup kita di sana, dan menemukan hidup atau sebaliknya.

Saatnya merantau. Saatnya kita membangun diri. Meninggalkan semua yang terkenang dan semua yang tersayang, bahkan yang di dalam rahimnya kita berselubung dan dijaga. Demi pendidikan, kebutuhan hidup, atau hanya sekedar dorongan naluri adventurous yang dipunya. Saatnya merantau. Saatnya berpijak di kaki sendiri, menentukan arah dan langkah, membangun visi dan misi hidup.

Merantau, sepeti halnya kegiatan lain yang menjadi pilihan dan jalan hidup memiliki ceritanya sendiri. Cerita untuk dikenang atau dibuang, tapi tetap harus jadi pelajaran. Cerita tentang pahit manisnya, kelat sepatnya, asam asinnya. Tapi tidak untuk cerita yang datar-datar saja, sebab jika datar-datar saja mungkin kita harus mengoreksi sesuatu di sana, mungkin merantau tapi ‘semua’ tetap seperti di kampung halaman saja, dipenuhi orang tua dan keluarga.

Orang dan rantaunya. Setiap orang dengan hal yang melatari rantaunya masing-masing, namun satu dalam tujuan rantaunya. Untuk hidup yang lebih baik pastinya. Yang merantaunya karena pendidikan ingin pendidikan yang lebih baik, yang merantau karena tuntutan hidup ingin kemampuan hidup yang lebih baik, yang karena pekerjaan dan usaha, ingin pekerjaan dan usaha yang lebih baik, yang karena khawatir akan keselamatan dirinya karena kerusakan yang terjadi pada daerah dan masyarakatnya ingin beralih ke daearah yang lebih baik.

Semuanya, semua hal tersebut, walau tidak harus dengan cara merantau tapi salah satu caranya ya dengan begitu mau tak mau. Bukankah ‘rantau’nya nabi dan para sahabat ke Madinah adalah rantau untuk kehidupan yang lebih baik? Rantau untuk keselamatan diri yang saat itu sedang jadi bulan-bulanan kaum musyrikin qurays, yang nabi sebenarnya tak perlu khawatir akan keselamatannya sebab ada Allah yang pastinya menjaga apalagi beliau adalah sang rasul, tapi karena ‘merantau’ adalah perintah dan salah satu bentuk usaha maka nabipun melakukannya. Rantau untuk keselamatan iman dan islam. Rantau yang menyejarah, indah dan sarat makna. Rantau yang disana nabi dan para sahabat membangun peradaban Islam, rantau yang mempersatukan manusia yang dahulu terbedakan karena nasab keturunan, kedudukan dan kekayaannya. Rantau yang disana nabi meletakan dasar-dasar kehidupan islam, yang sebenarnya harus jadi referensi mengenai tatanan kenegeraan bagi kita hari ini.

Apa yang menjadi rahasia besar keberhasilan ‘rantau’ nya rasul tersebut? Ialah kiranya iman dan Islam yang mengakar kokoh dalam hati, bak akar kuat menghujam. Iman dan Islam yang menjadi landasan dalam tiap keadaan. Lihatlah bagaimana kisahnya Abdurrahman bin Auf yang ikut merantau bersama rasulullah, dengan tangan kosong dia merantau, meniggalkan semua yang dimilkinya di Makkah, yang ia bawa hanya iman dalam dada, yang ia bawa adalah keahliannya. Ketika salah seorang kaum anshar Sa’ad bin Rabi’ berkata padannya saat mereka dipersaudarakan oleh rasulullah “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan anshar. Ambillah separuh dari harta ku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua isteri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis maka nikahilah ia!” *Al Mubarakfury, Sirah Nabawiyah

Berbekal iman dan Isam yang berakar kuat dalam diri yang membuatnya selalu mempunyai keyakinan, maka demi mendengar tawaran itu bukannya menerima tapi Abdurrahman dengan percaya diri menjawab “Semoga Allah memberkahi bagimu saudaraku, dalam keluarga dan hartamu. Marilah tunjukan aku pasar saja.” Dikisahkan bahwa sampai di pasar Abdurrahman bin ‘Auf mendapatkan sejumlah sanin dan keju untuk kemudian dijualnya pada waktu itu. Dan diapun kemudian menikah, lalu datang kepada rasul dan mengabarkan bahwa dia telah menikah. rasulullah bertanya tentang berapa mas kawin yang diberikannya kepada isterinya, ia menjawab dengan beberapa keping emas kepada rasulullah. Tentunya itu dari hasil ushanya tersebut.

Lau bagaima dengan rantau kita teman? Rantau yang entah dengan apa kita bekali, dengan iman dan Islam atau dengan sesuatu yang hampa. Rantau yang sering kali membuat kita lupa untuk berpijak dimana. Rantau yang telah banyak merubah orang dan gayanya. Yang kaya tak tentu rupa, dan yang berpendidikan mungkin menjadi pongah dan wah dengan titel yang tak dimiliki orang kampungnya. Rantau yang telah banyak menjadi tragedi tentang kepahitannya, hitam putih yang ditemui dalam perjalananya.

Rantau kita teman. Rantau yang saat ini mungkin sedang berdarah-darah, tapi yakinlah sebab selama kita yakinlah jalan itu akan terbuka, seperti pepatah lama yang kita pasti tak lupa bunyinya -berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, senang kemudian-. Rantau kita, yang mungkin kini sedang dialiri rindu dan butiran air mata; karena teringat mereka yang dikasihi, teringat tepian yang kita punya di sana, teringat dan teringat semuanya. Seperti halnya Bilal yang menyenandungkan rindu saat memulai hari-harinya di Madinah “betapa haruskah kulalui malam ini pada lembah yang tiada padanya rumput Izkir dan Jalil” *M. Anis Matta, Arsitek Peradaban

Apapun keadaan rantau kita hari ini, yang harus kita pastikan adalah tentang keislaman kita, itu yang utama. Sebab apalah artinya berhasilnya kita jika tanpa ada iman lagi di dalam dada. Ah apalah artinya, jika semua keberhasilan itu melupakan keluarga yang harusnya ketika berhasil mereka yang harus dibantu dulu. Ah, apalah artinya jika keberhasilan itu melupakan ranah kita bernaung dulu, asal kita

3 thoughts on “Merantau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s