Mereka Bernama Keluarga

Terkadang kita terlalu memosisikan pergaulan yang kita punya jauh di atas keluarga sendiri. Membanggakan pertemanan kkta dengan orang-orang; yang mingkin baik tapi juga mungkin sebaliknya, ada sebab dalam kebaikannya. Bisa jadi kita membanggakan mereka karena kehormatan yang mereka milki, karena posisi mereka dalam masyarakat, juga mungkin profesinya yang tinggi atau wibawanya yang disegani. Bisa jadi kita mengagumi mereka karena sifatnya yang kita sukai, terlihat indah bagi kita apa yang ada pada mereka. Yang kita, terlalu dan terlalu menganggap mereka dibanding keluarga sendiri.

Teman pergaulan kita, yang dalam berbagai hal selalu membuat kita mengutamakan mereka. Sekali lagi kalah posisi keluarga bagi kita. Mengutamakan teman adalah dianjurkan akan tetapi mengabaikan keluarag adalah dilarang. Diantara keduanya tak ada yang harus diabaikan dan terabaikan.

Pergaulan yang kita miliki di luaran mungkin jauh lebih membahagiakan disbanding dengan kebersamaan dengan keluarga sendiri. Hal ini tidaklah salah, kita tak menafikkan kenytaan yang kadang sering kali begitu, dan begitu sering kali. Pastinya tentu ada penyebab yang melatari hal itu semua. Pergaulan kita itu mungkin juga membuat kita merasa diperhatikan, membuat diri merasa lebih berarti dan lebih dihargai sebagai seseorang. Tentang hal itu tak juga kita ingin mungkir, sebab hal itu mungkin telah pula kita alami dan kita rasakan.

Apapaun itu, dengan segala keistimewaan yang lebih dimilki teman pergaulan dengan segala tersebabnya telah banyak memisahakn keluarga; orang tua, dengan anak, dan sebaliknya, adik dengan kakak, kakak dengan adik, suami dengan istri. Orang tua lebih gandrung dengan pergaulannya di arisan atau kegiatan sosialnya sesama sosialita lainnya, ibu-ibu kaya yang concern dengan kegitan sosial dan tak tau lagi anak dimana. Anak pun juga begitu, sibuk gaul dengan teman-teman sebaya, sefikrah, seide dan sewawasan, meninggalkan orang tua hingga tak terperhatikan lagi bagaiamana kondisi dan keadaan terakhir mereka.

Bagi kita, pergaulan yang kita punya dan kita agungkan itu mungkin adalah apa yang kita lihat sekarang atau apa yang kita temui hari ini. Senang, bahagia, sedih, duka adalah biasa untuk kita lewati bersama mereka. Akan tetapi ke depan adakah kita pernah memikirkan, adakah kita pernah menimbang-nimbang. Bukan untuk bermaksud tidak percaya dengan teman-teman kita yang setia, dan mempunyai kebaikan yang kita tidak ragu lagi akan ketulusannya.

Pergaulan kita teman mungkin sangat bisa diandalkan dalam hal-hal tertentu. Bahkan mungkin tentang apa yang tak pernah kita dapatkan dalam keluarga sendiri. Tapi cobalah, tak akan selalu seperti itu dan begitu selalu sebab setiap orang, masing-masingnya juga punya kepentingan. Ada hal-hal yang tak bisa diatasi oleh teman sepergaulan, dan ada hal-hal yang tak bisa mereka terima. Pada hal yang mungkin tak terlalu riskan mereka mungkin bisa, tapi pada hal yang lain tak dijamin kawan! Siapa yang bisa menerima kita dalam setiap keadaan dan itu adalah titik nadir kita sebagai seseorang. Sederhana saja ketika kita sakit atau mendapat musibah yang dihimbaukan orang adalah keluarga bukan?

Keluarga, keluargalah tempat kita pulang dalam setiap keadaan, seperti apapun kita hancur dan merasa terbuang karena apa yang tak mereka setujui pada kita tapi tetap mereka menyimpan kita di dalam lubuk hati yang terdalam. Mereka yang selalu menerima kita pulang bagaimanapun dan seperti apapun dengan dada yang dilapangkan. Mereka, yang bernama keluarga yang menyediakan sepenggal maaf saat tak satu pun maaf kita dapatkan dari orang-orang. Mereka yang mengobati setiap luka kita tak peduli sebanyak apapun mereka berkorban.

Semua itu adalah karena kita dalam keluarga kita adalah seperti mata uang yang diilustrasikan dengan uang 100.000. Dalam sebuah rapat perusahaan seorang direkturnya meremuk-remuk kertas 100.000 dan menginjak-injaknya di lantai, lantas bertanya pada karyawannya “apa yang akan kalian lakukan? Seorang karyawanya mengambil uang yang telah remuk dan habis diinjak-injak bosnya tersebut. Lalu dia berkata “apa yang kalian lakukan adalah karena kalian melihat nilai yang ada pada kertas itu bukan?” Begitupun adanya kita, yang nilai kita dalam keluarga adalah tersebab serahim, sedarah, dan seikatan yang kata ibu saya ketika marah karena pertengkaran kami kakak-beradik seperti apapun berteriak ke atas langit mengatakan dia bukan keluarga saya tak akan bisa, dan tetap tak akan berubah. Mungkin saja hari ini hal-hal seperti ini jarang sekali kita sadari akan tetapi ada saatnya dimana kita merasakannya.

One thought on “Mereka Bernama Keluarga

  1. Selain tips-tips di atas, mungkin Anda memiliki cara lain seiring dengan pengalaman yang didapat dan berjalannya waktu berkumpul bersama keluarga besar. Yang terpenting selalu hindari konflik sekecil apapun, aktifkan komunikasi yang baik serta ciptakan keluarga besar yang harmonis sehingga akan tercipta kerukunan sampai ke generasi-generasi selanjutnya serta memiliki keluarga bahagia dan rukun dalam satu rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s