Rahasia Senja

Senja, ketika perputaran dan peredaran mentari sampai di tepi barat. Meninggalkan siang di suatu sudut bumi, untuk menghadirkannya di sudut bumi yang lain. Begitu seterusnya ia berganti dan tak akan berhenti. Sebab jika saja ia berhenti maka tak akan ada siang dan malam, tak akan perrnah kita mengenal pergantian itu, siang hanya akan dialami oleh bumi yang diterangiya dan malam hanya akan dialami oleh bumi yang tidak mendapatkan sinarnya, karenanya juga tak akan ada kehidupan di dunia.

Ibnu Qayyim di dalam mifathu daar saadah, kunci kebahagiaan mengatakan kalau saja matahari terbit di salah satu bagian langit lalu berhenti disitu dan tidak melewatinya, tentu saja sinarnya tak mencapai banyak arah, karena bayangan salah satu sisi bola bumi mengahalangi sinar itu untuk menerangi sisi yang lain. Sebab itu kata beliau Allah menakdirkan terbitnya matahari di timur, terus menyinari ufuk barat dihadapannya. Kemudian beredar dan berputar sampai mencapai barat dan menyinari bagian yang tertutup pada awal siang. Dengan demikian terjadilah pergantian malam dan siang yang dialami oleh pernghuni belahan bumi yang berbeda itu.

Makanya senja adalah penanda, penanda bertukarnya waktu, waktu terbenamnya matahari di suatu belahan bumi setelah terbitnya. Penanda yang mengabarkan masuknya waktu menuju malam setelah siangnya. Penanda untuk orang-orang berpikir, merenungi akan kekuasaan dan kemaha besaran Nya. Dan disinilah tempatnya dua mata satu jiwa dapat bertemu. Mata lahir, yang senantiasa kita gunakan untuk melihat, mata lahir yang dapat menangkap bukti nyata, dan mata hati yang dapat merasakan keberadaan Allah melalui apa yang ditakdirkan dan diciptakan Nya itu.

Begitulah seharusnya kita ketika menangkap hadirnya senja yang ditandai dengan condongnya mentari ke barat. Senja yang memukau hati dengan roman, cahaya, dan warna yang dibiaskan mentari ke dinding langit. Senja yang membuat kita rindu ingin berada di batas sana, membiarkan mata kita silau karena cahayanya. Senja yang membuat kita ingin berlama-lama tanpa sedetikpun melewatkan keelokannya. Senja yang siapakah yang mengatur dan menciptakan Nya…

Ya, begitulah seharusnya kita ketika menangkap hadirnya senja. Sebab bukankah Allah dalam banyak ayat telah mengatakan bahwa apa yang dihadirkan Nya di muka bumi, apa yang dapat kita lihat dan apa maslahat yang kita rasakan karenanya, agar kita selalu ingat, dan berpikir. Dalam surah Ali Imran ayat 190 Allah mengatakan bahwa sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Orang yang berakal tentunya adalah orang yang senantiasa berpikir. Ibnu katsir dalam tafsirnya tentang ujung ayat ini mengutip perkataan ulama, Abu Sulaiman Ad-daraani, bahwa beliau mengatakan “sesungguhnya bila aku keluar dari rumahku, tiada satupun yang terlihat oleh mataku melainkan aku melihat bahwa Allah telah memberikan suatu nikmat kepadaku, dan bagiku di dalamnya terkandung pelajaran”. Itulah yang namanya berpikir bukan?

Sungguh banyak cerita kita tentang senja. Senja adalah himbauan bagi kita untuk kembali pulang, menyudahi segala aktivitas kita di luaran, apalagi jika aktivitas itu adalah akitivitas yang ada hubungannya dengan pasar, sebab telah diingatkan kepada kita untuk menjaga agar jangan sampai menjadi orang yang terakhir meninggalkannya. Senja, saatnya pulang, yang saatnya pulang adalah waktunya kita untuk berkumpul kembali dengan keluarga serta orang-orang yang ada di rumah, setelah berpisah seharian dengan ragam akitivitas yang berbeda satu sama lainnya.
Senja, tempatnya kita membangun dan membiasakan penghambaan, berubudyah jama’i, yang tidak bisa kita lakukan di siangnya lantaran masing-masing kita banyak sekali kesibukan. Menggunakan waktu-waktu ini untuk menjalin interaksi dan kebersamaan sebelum akhirnya masing-masing kita kembali lagi melakukan aktivitas-aktivitas pribadi yang kita perlu dan butuhkan. Itulah mungkin rahasianya mengapa terkadang bahkan sering kali malah, di kala senja itu semakin mengingatkan kita pada keluarga yang kita tak lagi bersama mereka, atau anggota keluarga yang telah tiada; ayah, orang tua misalnya. Hal ini disebabkan interaksi-interaksi yang pernah ada dan terjalin, aktivitas-aktivitas yang telah terlalui bersama mereka.

Di kala senja yang mayoritas aktivitas kita di luaran kita sudahi di sana adalah saat kita membawa ‘hasil’ dan rupa-rupa apa saja yang teralami seharian; untung, rugi, sedih, senang, kesal, marah, dan lainnya. Teringat kita pada perjalanan letih hidup, di saat senja yang kita masih menghitung-hitung langkah kaki, menekuri dan menyusuri jalanan aspal, mematut diri dalam perjalanan itu. Di senja yang kita melihat semua manusia sibuk dengan apa yang dibawanya. Di senja letih yang masih ada orang-orang yang menawarkan sesuatu pada orang-orang yang lalu lalang, berharap menemukan rezekinya di jalanan sebelum pulang.

Di senja yang kita merasa sensitifitas kita makin kuat, kuat sedihnya, kuat senangnya, kuat sakitnya, juga kuat sadarnya. Apakah kiranya yang menyebabkan hal itu yang pastinya kita tak begitu tau tapi bahwasanya telah terhimpun dan terangkum keseharian yang kita alami dan kita rasakan sesaat setelah rutinitas harian itu
selesai mungkin itu yang menjadi pemacunya. Jika ibarat cerita disanalah kesimpulan dari cerita, yang kita bisa berurai air mata, berbahagia, sekaligus juga bisa mengambil ibrah.

Senja, sejenak kita berhenti di sana. Kata senja sering kali dipakaikan seiring atau beriringan dengan usia. Usia senja, istilah yang dipakai untuk menyatakan bahwa usia telah menjelang berakhirnya, umua lah laruik sanjo kalau kata urang awak. Usia senja yang Allah menganjurkan untuk memperbanyak kebaikan. Sebagai mana terfirman dalam surah Al fathir 37 Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang-orang yang mau berpikir. Dan apakah tidak datang kepadamu pemberi peringatan. Ibnu Abbas menyebutkan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah usia 60 tahun, ada juga ulama yang mengatakan umur 18 tahun. Hasan Basri dan ulama lainya mengatakan 40 tahun. Pemberi peringtan menurut Ibnu Abbas dan juga ulama lainnya mengatakan adalah nabi Muhammad salallahu alaihi wa salam. Sedangkan Ikrimah dan Ibu Uyainah berpendapat adalah usia tua *Riyadhusshalihin.
Hm inilah rahasia senja, rahasia yang mungkin bukan rahasia tapi tetap akan menjadi rahasia. Wallahu a’lam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s