Syiar Tauhid

Banyaknya masyarakat yang mendatangi tempat-tempat ataupun orang-orang yang dianggap keramat, yang dengan mendatangi tempat-tempat itu dianggap dapat membaikan rezeki, ketenangan, jodoh dan lain-lain. Percaya pada benda-benda dengan anggapan disebabkan karena benda-benda tersebut membawa keberuntungan dan maslahat bagi diri, dan berbagai hal yang sejenis dengannya, mengindikasikan bahwa ada sebuah fenomena serius yang terjadi di dalam masyrakat. Siapakah masyarakat itu? Mungkin adalah kita, keluarga kita, orang-orang terdekat kita, orang tua ataupun anak cucu kita.

Fenomena tersebut adalah wajah-wajah kita hari ini. Sebuah kesyirikan yang sedang menggurita di tengah lelahnya perjalanan dan himpitan hidup kita yang semakin lama semakin bertambah-tambah. Kita seperti kehilangan pegangan, seperti tak tahu lagi mau berlari kemana untuk membawa segunung masalah yang ada di pundak kita. Mengadukan urusan-urusan dunia kita pada hal yang tak jelas, kesana-sini mendatangi sesuatu yang sama sekali tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya akan memalingkan dan menyesatkan kita.

Kenapa hal-hal seperti ini terjadi? Jika dulu, kesyirikan ini terjadi berpangkal mula pada pengagungan terhadap orang sholih di masanya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa dahulu 10 generasi pertama dari anak Adam bediri di atas tauhid. Kemudian datang suatu kaum, yang apabila ada seorang sholih diantara mereka yang meninggal dunia, lalu oleh mereka orang sholih tersebut dibuatkan gambarnya. Hal itu tujuannya untuk memberi semangat dalam beribadah. Lama kelamaan dibisikan oleh setan dari membuat gambar berubah jadi membuat patung, kemudian datanglah generasi yang tidak mengetahui apa-apa, lalu setan mengatakan pada mereka bahwa ayah-ayah mereka dulu menyembahnya (patung-patung itu) maka terjadilah penyembahan terhadap patung-patung itu, yang bernama orang-orang sholih tersebut. Inilah awal mula, asal muasal munculnya kesyirikan di tengah kehidupan manusia. *Muhammad Addul Wahab, Kitab Tauhid

Pada saat sekarang ini hal seperti itupun kita lihat telah berkembang ditengah-tengah kita, dalam bentuk yang serupa atau bisa jadi beda tapi substansinya tetap sama. Yang perlu kita tekankan sekarang apakah hal itu terjadi karena kurangnya ilmu kita dalam beragama, kurangnya ilmu kita untuk mengenal Allah, ataukah kurangnya kita mendengar tauhid di telinga-telinga kita. Tak ada lagikah pendakwah? Apa telah disibukkan mereka yang bersorban di kepala untuk berteriak-teriak, memaki-maki untuk menumpas maksiat, sehingga lupa akan apa sebenarnya harus dibenahi agar hal-hal tersebut tercegah.

Maka mengenalkan dan mengajarkan manusia kembali kepada tauhidlah intinya. Memberikan pamahaman dengan ilmu dan pemahaman yang benar seperti yang telah diajarakan oleh Allah melalui rasul Nya. Menambatkan dan mengikatkan kembali pada hati-hati bahwa Rabb kita adalah Allah, tempat bergantung, berlindung dan bernaung. Tauhid yang mengakui Allah adalah zat yang layak untuk ditaati, yang memberi rezeki dan mengatur seluruh perkara yang ada di atas semesta, dari perkara yang besar sampai ke perkara yang sedetail-detailnya.

Lalu apa sebenarnya tauhid itu? Bagaimana pengaruh tauhid itu dalam kehidupan manusia? Tauhid secara bahasa berasal dari kata wahada-yuwahidu–tauhidan, yang artinya adalah menjadikannya Esa, satu, tak bersekutu dengan siapa-siapa. Para ulama membagi tauhid itu ke dalam tiga bagian yaitu tauhid Rubbubiyah, tauhid khuluqiyah dan tauhid asma’ wa sifat.

Tauhid Rubbubiyah, mengesakan Allah dalam perbuatan Allah; Allah yang menghidupkan, memberi rezeki pada setiap makhluk, mematikan, mengetahui yang ghaib, menegakan hari kiamat. Tauhid khuluqiyah, mengesakan Allah dengan perbuatan hamba seperti shalat, zakat, puasa, dan segala ibadah lainnya karena Allah. Terakhir tauhid asma’ wa sifat, mengakui bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna yang tak ada tandinganya dengan apapun juga.

Dengan adanya ilmu tentang tauhid ini, diharapkan kita tidak lagi seperti baling. Mengakui Allah, tapi meminta selain kepada Nya, seperti tidak adanya buhul yang mengikat kita dalam agama, seperti orang linglung yang papah, pupus harapan menghadapi realitas hidup padahal ada Allah tempat mengadukan segala urusan kita. Sebab dengan ilmu ini membuat kita tahu siapa itu Allah, apa hak-hak Allah, bagaimana Allah terhadap hamba-hamba Nya. Dan inilah alasan kenapa ilmu ini wajib dipunyai oleh setiap muslim dan hal pertama dan utama yang harus diajarkan oleh para ‘alim (orang yang berilmu) pendakwah agama kepada objek dakwahnya. Sebab mustahil mengingatkan manusia untuk menjauhi kesyirikan, maksiat, dan segala macamnya tanpa mereka tau apa, kenapa, dan bagaimana. Ilmu itulah yang harus diberikan terlebih dahulu, untuk merekatkan kebaikan-kebaikan dalam agama yang kita ajarkan. Ibaratkan sebuah material; pasir dan kerikil adalah kebaikan itu dan semen adalah ilmu yang berguna untuk merekatkannya. Bayangkan jika semen itu tidak ada, bagaimana sebuah landasan, pondasi akan tertegak.

Akan berbeda halnya jika syiar untuk mencegah manusia dari berbuat syirik dan kemungkaran tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak diperkenankan, dengan kekerasan-kekerasan. Mengumpulkan orang dengan dalil-dalil agama yang benar untuk memanas-manasi agar melakukan pertentangan-pertentangan yang menimbulkan kericuhan dan kerusuhan di tengah-tengah masyarakat. Padahal sebenarnya dalil itu juga harus diikuti oleh tindakan yang benar. Benar pada dalil, tapi tindakan tidak benar, apakah itu namanya?. Jangankan mengajak manusia untuk bertauhid, sekedar bersimpati saja masyarakat sudah enggan, naudzubillah, hal ini jangan sampai terjadi. Semoga hal ini sama-sama jadi perhatian kita semua. Wallahu’alam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s