Tuhan Tahu Tapi Menunggu

Kaum Saba’, salah satu kaum yang mendiami selatan Yaman, yang diabadikan kisahnya oleh Allah dalam Alquran. Kaum yang diberkati dengan kelimpahan rezeki lewat kekayaan hasil pertanian, yang tak ada pertanian yang sesukses pertanian kaum Saba’. Mereka adalah kaum yang dapat mengendalikan air-air hujan yang mengalir dari sebelah laut di selatan dan timur. Mereka membuat bendungan yang diapit oleh dua buah bukit, dan di muka lembah di antara dua bukit itu mereka bangun sebuah pembendung yang bisa dibuka dan ditutup untuk mengendalikannya menurut keperluan mereka *Sayyid Quthb Tafsir ayat pilihan.

Begitu cara Allah memberi rezeki pada hamba Nya, pada suatu kaum, pada suatu bangsa. Dengan kelebihan itu Allah memberi penghidupan, jalan bagi manusia untuk menghidupi dunianya. Sampai suatu saat..kaum, bangsa yang Allah telah limpahkan atasnya kelebihan itu menjadi lupa karenanya. Sampai suatu saat.. kaum, bangsa itu sedikitpun tiada mau tau siapa yang telah memberikan itu semua untuk mereka. Sampai telah berubah mereka seperti penguasa saja terhadap semesta.

Tentu pada saat itu ketika mereka berpaling pada kali pertama, Allah tak segera memberikan balasan atas apa yang mereka perbuat, Allah hanya memberi sebatas peringatan sampai tiba saatnya. Seperti juga Fir’aun yang menuhankan dirinya. Allah tak bersegera mengakhiri kedzalimannya langsung ketika itu, sehingga masih bebas ia memaksa manusia mengakuinya sebagai tuhan. Sampai berpuluh-puluh tahun dia dibiarkan dengan mahkota kebesarannya. Tapi kita tahu pasti semua itu ada perhitungannya di sisi Allah.

Ya, semua pasti ada pehitungannya, walau tidak seketika, tidak saat itu juga. Seperti ungkapan masyhur Leo Tolstoi yang diambil dari judul buku kumpulan ceritanya (tapi belum saya temukan bukunya, hanya reviewnya saja) “Tuhan Tahu Tapi Menunggu”. Tuhan tahu tapi menunggu. Apa yang kita lakukan barangkali kita tak menyadari bahwa suatu saat perbuatan itu akan diketengahkan pada kita. Apa yang kita lakukan itu, perlahan..tapi pasti dinyatakan oleh Allah lewat cara yang dikehendaki Nya. Atau jika Allah memberi tangguh atas perbuatan itu bisa jadi itu adalah istidraaj, kemurahan, kesenangan yang diberikan oleh Allah atas sesuatu yang dimurkainya pada kita, tak lain untuk Allah mengulur balasannya.

Istidraaj. Itu adalah sesuatu yang berbahaya. Sadar atau tidaknya pasti kita pernah menyadari bahwa apa yang kita lakukan di muka bumi ini mungkin bertentangan dengan hukum Nya. Akan tetapi kesadaran itu tak pernah benar-benar jadi penyegeraan untuk kembali pada yang semestinya. Sampai akhirnya, berlarut-larut dalam lupa, hingga Allah membiarkan kelupaan-kelupaan itu, memperindahnya dan mempercantiknya dengan kesenangan-kesenangan yang diberikan. Padahal semata-mata itu hanyalah untuk mengulur-ngulur balasan, agar balasan itu lebih pedih lagi pada akhirnya. Sadar di tegur olehnya pada kali pertama, kedua, dan ketiga, kita masih diberikan Nya tenggat untuk memperbaiki urusan-urusan yang ada, tapi jika yang diberikan adalah sebentuk penguluran-penguluran, adakah jaminan bagi diri bisa memperbaikinya, mungkin itu sampai pada titik akhir riwayat kita.

Sekali lagi Tuhan Tahu Tapi Menunggu. Bagi Nya tak ada yang luput, sedang yang terbesit dalam dada, bahkan yang belum sempat singgah pun Dia tahu apalagi yang sudah nyata-nyata. Sebagaimana kaum Saba’ yang akhirnya Allah hancurkan penghidupan yang membuat mereka berpaling itu, dengan mengirimkan tikus yang tak pernah dulu ada disana (bahkan hama, serangga pun tak ada, hingga itulah hal yang juga membuat suksesnya pertanian mereka) untuk menggerogoti bendungan mereka yang mengakibatkan banjir besar dan memporak porandakan apa yang selama ini mereka punya. Kemudian Allah gantikan tanah yang subur dulunya itu menjadi padang belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon berduri dan pohon yang buahnya pahit. Juga sebagaimana Fir’aun sang raja lalim di negeri sahara yang akhirnya Allah tenggelamkan kesombongan bersama jasadnya, jasad yang hingga ruh telah dicabut dari tuannya tetap utuh sepanjang kehidupan dunia.

Begitulah yang terjadi sebenarnya, dan kita kawan pastinya hanya menunggu giliran saja. Pun begitu sebaliknya dengan balasan kebaikan. Dikisahkan suatu saat Rasulullah mengunjungi keluarga salah seorang sahabat yang telah meninggal dunia. Pada sang istri sahabat tersebut Raulullah berkata “Adakah wasiat dari suamimu?” “Rasulullah, sebelum suami saya meninggal, ia sempat berkata lirih, ‘Andaikan lebih panjang .… Andaikan yang baru …, dan Andaikan semuanya’. “Saya tidak paham apa yang ia katakan, apakah itu wasiat ataukah hanya rintihan sakaratul maut.”

Mendengar hal itu, Rasulullah tersenyum, lalu menjelaskan makna ucapan almarhum sahabat beliau itu kepada isteri yang ditinggalkannnya, bahwa apa yang telah ia dengar dan apa yang telah diucapkan oleh suaminya ketika itu adalah benar. Suaminya tidak sedang menggigau karena sakaratul maut. Ketika itu, suaminya melihat pahala amalan selama hidupnya.” Amalan tersebut, jelas Rasulullah, terjadi ketika sahabatnya itu pergi ke masjid. Di perjalanan, ia bertemu dengan orang buta yang sama-sama hendak ke masjid, lalu ia menuntunnya. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. Andaikan jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang.

Suatu hari sahabat itu juga hendak pergi ke masjid untuk shalat Subuh. Di perjalanan, ia bertemu dengan orang yang sedang kedinginan. Lalu, ia memberikan satu dari dua mantel yang ia pakai. Dan, yang ia berikan itu bukan yang baru. Karena mantel yang baru ia sendiri yang pakai. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. Andaikan yang ia berikan itu mantel yang baru, pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang. “Suatu hari juga engkau menyiapkan makanan untuknya. Ketika makanan itu hendak dimakannya, tiba-tiba ada pengemis. Lalu, suamimu memberikan separuh dari makanan itu”. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. Andaikan yang ia berikan itu semuanya, pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang.

Tak dinyana bukan. Bagi kita mungkin apa yang telah dilakukan sahabat tadi adalah hal yang sederhana dan biasa saja. Tapi begitulah Allah mengganjar perbutan tersebut. Sekecil apapun kebaikan itu tetap ada perhitungan di sisi Allah. Mungkin balasan itu tidak kita lihat saat itu juga, tapi balasan itu pasti ada. Seperti shabat tadi dengan ketiga kebaikannya yang sangat dihargai oleh Allah, yang ia menyesal ‘andai lebih panjang, yang baru, dan semuanya’ sebab di akhir hayatnya diperlihatkan bahwa ternyata tiga hal itulah yang menjadi kebaikan utamanya, begitupun kita tidak tahu kebaikan-kebaikan mana yang jadi pengundang karunia yang kita terima, namun yang pasti dengan cara Nya, Allah membalasi semuanya. “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan, barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.” (QS Az-Zalzalah: 7-8). Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s