Cinta yang Dewasa

loveCinta, ada banyak definisi yang diungkapkan orang-orang sesuai pemahaman akan cinta itu, sesuai dengan pemikiranya, dan lebih tepatnya sesuai dengan cinta yang ada dalam lubuk hatinya. Ibnu Qayyim mengatakan bahwa cinta adalah cinta itu sendiri, cinta tidak dapat digambarkan lebih jelas dari apa yang digambarkan wujud cinta itu lagi. Cinta itu dahan-dahan yang ditancapkan dalam hati sehingga hati akan berbuah sesuai dengan kemampuan akal, Ahmad bin Atha. Disebut cinta (dalam kutipan kata-kata cinta) menurut Dalf As Syilbi karena cinta menghapus hati dan ingatan selain yang dicintainya. Rabiah Adawiyah di penghujung kalimatnya tentang cinta mengatakan bahwa cinta bicara dari rindu, dan mendamba dari rasa.

Namun cinta rasanya tak cukup didefinisikan dengan satu saja atau dengan yang semisal. Sebabnya sederhana saja, karena ia adalah perasaan. Perasaan yang darinya terlahir banyak- banyak rasa dan tindak jiwa lainnya. Apa-apa yang terlahir itulah yang menjadikan cinta itu sukar untuk didefnisi, jika saja kita sekarang bertanya kepada seseorang “cinta, sulit diungkapkan dengan kata-kata, tapi ia terasa” barang kali itulah jawaban yang akan kita terima. Lho, kok tau? Sebab itulah kata yang pernah saya baca, entah dimana, dan itu pula jawaban yang dulu saya berikan ketika ditanya apa itu cinta.  Dan itu juga yang menyebabkan tema cinta tak ada habis untuk dibahas, dari dahulu hingga sekarang, dan sampai nanti di masa yang akan datang Insya Allah, saat dunia tak lagi “milik” kita.

Lalu apa saja kiranya yang lahir dari perasaan cinta? Wujudnya tentu banyak, perhatian, tanggung jawab, memberi, berbagi, berkorban dan lainnya, adalah beberapa diantaranya. Karenanya ketika mencinta, sikap kita, perilaku kita tak akan jauh-jauh dari hal tersebut. Yang keras bisa melembut dengan caranya di hadapan yang dicintanya, dada akan menjadi lebih lapang dalam menerima setiap keadaan; -melunakan besi, menghancur leburkan karang, kata Rumi-. Dan jika saja engkau, aku, kita belarut-larut dalam perasaan cinta tanpa kendali, salahpun akan jadi pemakluman di pandangan mata, buruk menjadi baik, cacat menjadi sempurna, sebab akan selalu ada alasan untuk cinta.

Namun bagai manakah cinta itu berjalan? Seiring waktu, seiring keadaan cinta menua bersama tuanya hari-hari, bersama senjanya usia kita. Cinta bertemu realita hidup yang kompleks, tidak seperti saat-saat awal cinta itu melambungkan rasa kita. Cinta bertemu dengan masalah-masalah dan gesekan interaksi sesama kita. Cinta menemukan ujiannya saat berhadapan dengan itu semua. Jika perasaan melulu yang jadi handalan dalam kehidupan kita, bagai mana akan memenangkan cinta itu. Kebosanan malah yang akan ada.

Cinta, didalamnya harusnya tak hanya aku, engkau, kita merasa, tapi bagai mana menghidupkan cinta itu dengan cinta pula. Jika mencintai, yang kita bangun adalah jembatan yang membaikan masing-masing kita, menjadikan kita dan yang kita cintai lebih baik, mendukung setiap kebaikan untuknya. Menjadikan cinta itu bakti. Menjadikan cinta itu berarti di hadapan Sang Pemberi Cinta.

Begitulah cinta yang mestinya kita bangun, mana mungkin disebut cinta jika di dalamnya saling menyakiti, saling mementingkan diri sendri. Tidaklah disebut cinta, jika sang pencinta sibuk dengan perasaan-perasaan saja, sibuk dengan perasaan sendiri, tanpa tindak, tanpa realisasi yang nyata. Tentunya cinta tak selalu pada pasangan saja berlakunya, kita sudah cukup bijak dalam mentafsirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s