Iri

12433-pandang-kesuksesan-orang-lain-itu-sebagai-motivasi-bukan-iri_247x200_widthPernahkah engkau merasa iri? Iri dengan kebahagiaan yang dimiliki oleh orang lain, sesuatu yang tak engkau miliki, dan yang engkau impi tetapi ada pada teman mu, di hadapan mu, dalam kebersamaan mu. Iri meskipun bukan untuk melenyapkan apa yang didapat orang-orang, tapi iri kenapa engkau tak mendapatkan hal yang serupa, kenapa engkau yang berharap tapi malah orang lain yang dapat. Atau setidaknya lagi engkau merasa kecewa, akan apa yang orang lain ada sedangkan engkau tiada. Iri yang tidak ada tempat; akan ilmu dan amal (2 hal yang wajib kita merasa iri). Pernahkah engkau merasa iri? Aku pernah!

Perasaan-perasaan seperti itu tentunya tak jarang ada pada kita, meskipun itu bukan tabiat asli diri tapi hanya saja karena kita sedang patah akibat sesuatu yang melarut di jiwa, saat keraguan akan berbagai hal muncul bersamaan. Saaat impian-impian kita tak bertempat nyatanya, saat satu persatu kita mengucapkan selamat dan menyalami teman-teman kita atas kesuksesan yang diraih dan kebahagiaan yang didapati, sedang kita terasa masih begini-begini saja.  Saat kita terlalu jauh mendongak ke atas.. Begitulah sesungguhnya tengah terjadi bukan? Ataukah benar, perlahan telah terselip dan tumbuh salah satu sifat buruk itu pada hati kita.

Iri, yang sebabnya hanya Allah dan kita yang tahu. Tapi sungguh sebenarnya apa yang ada pada orang lain, dan apa yang ada pada kita itu adalah takdir dari Nya, ketentuan yang diberikan Nya pada masing-masing kita. Takdir yang kemudian menjadi pembeda proses hidup yang kita jalani dengan orang-orang meski kita tak kunjung tahu pelajaran apa yang Allah beri atas proses yang Allah inginkan kita melewatinya itu. Namun yang pasti apa yang ditentukan Nya adalah sebaik-baik ketentuan yang ada, dan itulah yang terbaik buat kita.

Atau bisa jadi apa yang diterima orang lain itu adalah berkah atas kepantasan yang dimilikinya. Lalu tanyakan lah pada diri apakah dengan kekinian kita hari ini rasanya berhak pula kita memperoleh hal yang sama? Lalu ingatkah kita akan Kalam “Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, karena bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita pun ada  bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui atas segala sesuatu”

Jika itu masih belum cukup, tidak kah kita menyadari kondisi iman seperti apa yang kita punya saat kita merasakan hal-hal seperti itu? Kita sendiri tentunya tahu. Iman yang menjadi pengandali dan penentu berjalannya suasana hari-hari kita, sikap dan tindak tanduk kita. Mari lihat itu kembali dalam diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s