Ataukah Ini Seperti Pak Taufik Ismail

images (1)Seperti juga saya, anda, kita mungkin adalah orang yang tak kunjung tau kemampuan kita. karenanya juga tak tau kemana arah cita-cita kita sebenarnya. Langkah kita seperti tak tertuntun, meraba-raba dan menjalani hidup tanpa cita rasa dan dedikasi yang luar biasa.

Kemampuan kita yang tak kita sadari mungkin banyak, tapi tak satupun mengantarkan kita menjadi diri kita sebenarnya. Menjadikan diri kita nyaman ada di dalamnya, dan dengan hati yang riang melakukannya. Agaknya dari lama kita sudah terbiasa seperti itu, dilingkungi kerja-kerja yang memberati jiwa dan menjadi apa yang orang lain kehendaki untuk diri kita.

Lingkungan kita seperti pendidikan misalnya mungkin kurang mengarahkan kita menuju penemuan jati diri kita sesungguhnya. Kita seolah-olah terpaksa mengikuti saja untuk memahami apa yang tak bisa kita pahami meskipun sudah basitungkin ‘jungkir balik’ kita untuk memahaminya. Kita tak bisa keluar dari tuntutan itu dan tetap berkutat disana. Bahwasanya kita tak bisa disana dan katanya tak akan menjadi apa-apa. Seperti hanya ada satu jalan saja menuju ujung dunia.

Adalah Alice Munro, seorang peraih nobel kesusasteraan tahun 2013 lalu di Stockholm. Dia adalah seorang penulis Canada, lahir di Wingham Ontario, 82 tahun sudah usianya ketika menerima penghargaan bergengsi itu. Dear life dan Dance of Happy Shade adalah karyanya yang terkenal. Katanya mengenai kesuksesannya “saya bisa sukses karena tak memiliki bakat lain”. Dan taukah kita di usia berapa dia memutuskan untuk menjadi penulis? 11 tahun. Sebelia itu dia sudah bisa memutuskan hendak jadi apa dirinya nantinya. Itulah berkah pendidikan di luar sana, yang menunjang kepercayaan diri dan membantu menemukan kediriannya.

Lihat lagi hal yang lain, budaya kita. Dalam keluarga kita saja misalnya terkadang tak cukup membebaskan kita menjadi apa saja, dan membimbing kita sesuai kemampuan kita yang mungkin muncul di dini usia kita. lebih baik jadi ini, jadi itu seperti anak tetangga. Apa lagi jika dalam lingkungan yang kurang berada, seperti kemiskinan adalah hukuman yang memenjarakan semua keinginan; sudah dapat bersekolah saja sudah bersyukur, apalagi jadi sarjana.

Suatu ketika saya berujar pada sang bunda, lalu kiasan beliau mengingatkan saya “sayap meranting, terbang nak tinggi” Entahlah, mungkin karena keberkurangan yang membuat kami begitu, takut bercita-cita, seperti tak mungkin, takut kalau tak sampai betapa sedihnya, mungkin juga gila jadinya seperti cerita-cerita yang terdengar entah dari mana. Meskipun yang saya tau adalah beliau yang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat saya, yang sekuat tenaga mendukung apa-apa saja yang dirasa baik untuk masa depan saya. Pepatah beliau itu hanyalah apa yang tertanam dalam diri beliau dan bahwasanya rasa rendah diri serta kemiskinan itu adalah seiring nampaknya.

Pada akhirnya banyak hal yang membuat kita tak tau arah, cita kita. Maka hanya dokter dan pilot saja cita-cita populis nan manis yang kita dengar dan kita tau saat kita kecil dulu, selebihnya bukan cita-cita. Coba kalau pilot itu diganti bahasanya dengan sopir pesawat, dan dokter menjadi tukang obat, apa kabarnya kalau begitu? Lalu kita lihat juga bagaimana orang mengerjakan kegemarannya tapi tak bisa menghidupi dirinya dengan apa yang digemari itu. Sebaliknya kita bekerja dengan apa yang tak kita sukai dan kita dapat hidup dari sana. Ataukah ini hanya seperti pak Taufik Ismail, yang katanya menjadi dokter hewan, dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan untuk menafkahi cita-cita kesusateraannya?

Dan sampai saat ini saya masih meraba-raba kemana arah tujuan saya, mungkin juga anda, lebih sopannya kita, ya kita. Tapi satu hal yang saya ingat bahwa mencoba apapun, melakukan apa saja yang kita bisa dan ada di hadapan kita saat ini, itu semua bukanlah perkara yang sia-sia, mungkin dengannya kita akan betul-betul menemukan jati diri kita sebenar-benarnya. Seperti monolog yang disampaikan oleh tokoh utama dalam sebuah film drama Jepang, saat dia bercerita untuk memotivasi kecuekan teman-temannya dalam mengikuti pementasan paduan suara sekolah yang akan dihadiri oleh guru-guru dan orang tua siswa.

Dia bercerita, ayahnya tak menyukai ide untuk melanjutkan kesuksesan kakeknya di bisnis tahu, dan memilih pekerjaan lain. Dia kemudian bekerja di aula kota. Tapi duduk saja tampak tak cocok dengannya, dan dia berhenti dan mecoba mencari pekerjaan yang lain. Sang anak membayangkan betapa bosannya sang ayah duduk menunggu lama, tapi tidak.. disela itu ayahnya membuatkan jam tangan untuknya dan blouse untuk adiknya. Lalu inilah intinya “my father went a long way, but there is none of them which are useless. It’s because he took the long way, he finally decided on succeeding the tofu shop. That’s why stopping by or taking a longer way is not such a bad idea. Begitulah..

Meskipun sampai saat ini belum bisa menentukan apa cita, atau belum bisa mencapai cita yang dihendaki tapi teruslah berjalan. Sebab kita tak tahu apa yang kita lakukan saat ini mungkin itulah diri kita, atau dalam perjalanannya nanti kita menemukan keasyikan disana. Memang ada orang yang melakukan pekerjaan yang mereka senangi, dan dengan riang melakukan kerja-kerjanya setiap hari tanpa keluh kesah, itu adalah buah dari kerja keras mereka dan kehendak Allah untuk mereka (sebab ini adalah bahagian dari takdir, dan takdir yang Allah tetapkan sesuai dengan kepantasan makhluk tersebut). Kita mungkin setiap hari tak bisa begitu, tapi menyadari tugas kita adalah mulia dan kebutuhan hidup adalah jawab kita. Disinilah sangat bergunanya kata bijak yang menyatakan yang membuat hidup ini menyenangkan bukanlah melakukan hal-hal yang kita senangi melainkan menyenangi hal-hal yang harus kita lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s