Sepantun

imagesKali keduanya melihat pantun di buku catatan keponakan yang masih duduk di SD dalam mata pelajaran yang berbeda dan juga pelajaran yang berbeda. Dulu di kelas empat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, sekarang dalam mata pelajaran SBDP di kelas lima. Hal ini mengingatkan saya untuk sedikit bercerita mengenai pantun.

Sedikit ketertarikan  saya  dengan pantun ketika berada di rantau melayu ini, dimana dalam tiap kesempatan acara, orang-orang sering berpantun sebelum membuka pembicaraan, atau pun untuk menutupnya. Bahkan dalam prosesi acara pernikahan, ini yang lebih menarik lagi; kalau pihak laki-laki datang ke keluarga mempelai wanita maka harus pakai pantun dulu, sebelum pantunnya mengena maka tidak dipersilahkan masuk. Itu sebabnya kenapa kedua belah pihak harus menyediakan orang yang pandai berpantun. Tapi sebenarnya di ranah minang pun dulu pantun sering kali dipakai, waktu saya SD kalau tidak salah ada dalam mata pelajaran Budaya Alam Minang kabau (BAM), tapi kenapa disana tidak mentradisi?  Entahlah..

Pantun, nampaknya sederhana, tapi kalau diamati ia juga sarat makna, selain itu juga sebagai hiburan, dan penyampai pesan serius yang tidak bisa disampaikan dengan serius, ataupun ketika malu untuk mengungkapkannya maka pantunlah menjadi salah satu medianya. Tak hanya itu pantun pun juga kaya ilmu rupanya. Ketika seorang saudara mengirim sebuah pantun lama, begini bunyinya:

Hujanlah hari rintik-rintik

Tumbuh cendawan di rumpun talas

Kami sepantun telur itik

Kasihan ayam maka menetas

Ketika itu saya bertanya kepada sang pengirim kenapa kasihan ayam maka menetas.. Lalu saya membacakan pantun itu kepada umi, dan bertanya hal yang sama. Kata beliau, iya memang…telur-telur itik yang mengeraminya bukan itik, tapi ayam. Sampailah di suatu pagi, saya menanyakannya pada guru Biologi di sekolah, jawab Ibu guru itu karena ayam itu kan suhunya panas, rasa aja deh di bagian ekornya..begitu kata beliau

Hm menulis pantun pun harus berilmu rupanya..tidak hanya sekedar kita pandai merangkai kata-kata dengan bunyi yang sama, tapi juga harus ada isi disana, setidaknya isinya berupa fakta, nasehat, realita sosial yang ada, pengeculiannya mungkin untuk pantun jenaka. Seperti pantunnya si Jarjit 123 bunga raya kamu bukan kawan saya, hahaha.  Kalau biasanya pantun baris 1-2 nya hanya sampiran dan 3-4 nya baru isi yang disampaikan, akan tetapi ketika mendengar pantun dari orang yang benar-benar rajanya maka akan kita temukan pantun itu antara sampiran dan isinya mempunyai kesambungan atau berhubungan dengan isi yang disampaikan.

2 thoughts on “Sepantun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s