Guru Masa Depan dan kurikulum 2013

images (15)
sumber gambar google candidate.guru

Menemukan tulisan lama, 2 tahun yang lalu di blog sekolah. Setelah dibaca lagi ada satu paragraf yang harus dicut. Membacanya semoga memotivasi saya kembali, dan pembaca.

Sebagai center of excellent dalam proses belajar mengajar guru menjadi penentu keberhasilan dalam dunia pendidikan. Keberhasilan ini tidak hanya dilihat dari segi perolehan nilai, angka-angka tapi juga kepada aspek kepribadian. Kepribadian yang merupakan sikap hidup yang lahir, terbentuk dan ditumbuh kembangkan dari proses yang dialami peserta didik selama  pendidikan itu berlangsung. 

Hal tersebut selaras dengan pengertian pendidikan itu sendiri. Bila merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) maka pendidikan itu adalah memelihara, memberi latihan (ajaran/pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Bila dirujuk pada undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 Bab I menyatakan bahwa pendidikan itu adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat,  bangsa dan negara.

Dengan demikian jelaslah bahwa pendidikan tidak semata-mata mengukur keberhasilannya dari nilai yang angkanya diperoleh dari berapa jumlah betul dan salah, yang menghasilkan menjamurnya lembaga pendidikan “industrialis” seperti saat ini. Namun sayang sering kali kita cenderung berpikir begitu, dan paradigma itu menjadi keumuman di tengah-tengah kita hari ini. Angka-angka ini juga kemudian yang jadi orientasi peserta didik, tak peduli bagaimana cara mendapatkan nilai itu, dengan cara yang jujur atau tidak sehingga tingginya angka tidak berbanding lurus dengan ilmu yang dimilki apa lagi jika disandingkan dengan kepribadian tadi.

Hal ini kembali pada cara kita memaknai pendidikan itu sendiri. Sebab jarang sekali kita berpikir bagaimana menghadirkan nilai-nilai luhur kepribadian pada peserta didik, bagaimana melatih kepribadian itu sehingga ia menjadi karakter yang mengakar kuat dalam diri. Kalau dalam dunia persekolahan kita kenal adanya remedial pada mata pelajaran yang belum dikuasai, sehingga perlu di up-grade lagi. Tapi pernahkah kita berpikir bagaimana kalau up- grading itu kita lakukan pada penerapan nilai-nilai luhur kepribadian, yang kita amat krisis soal ini. Krisis yang tercermin dengan berbagai perbuatan tidak terpuji seperti tawuran antar pelajar, aksi kekerasan yang berujung kematian, tindakan melukai orang lain yang katanya iseng dan berbagai hal yang tidak terpuji lainnya.

Apakah yang harus kita lakukan? Sebagai seorang guru (bukan bermaksud subjektif) atau menyama ratakan ini untuk semua guru, penulis menyadari meskipun pendidikan kita khususnya dengan penerapan kurikulum 2013 yang menitik beratkan pada pembinaan akhlak mulia namun sering kali yang tetap menjadi beban adalah bagaimana menuntaskan materi pelajaran, bagaimana kita berusaha agar semua siswa mampu menguasai materi pelajaran dan dengan hasil yang memuaskan. Jarang kita benar-benar berpikir dan bertindak bagaimana situasi krisis ini dapat diatasi, dengan cara apa, langkah kongkrit apa yang dilakukan, pendekatan apa yang bisa diterapkan tekecuali hanya diskusi-diskusi yang berujung keprihatinan.  Lalu kembali dengan tugas menjejal materi pelajaran.

Memang bagaimana siswa bukanlah tanggung jawab guru sepenuhnya, sebab mereka juga punya orang tua, yang waktu mereka tentu lebih banyak di rumah dibanding dengan sekolah, atau jangan-jangan kita salah, waktu mereka lebih banyak di luar,  di tempat-tempat lain, dibanding dengan di kedua tempat itu. Namun jika jujur pada nurani kita, kita tak bisa membiarkan itu. Yang jika kita jujur tentu semua ini bukan berakhir tidak lebih dari sekedar rasa keprihatinan.

Pertanyaan beratnya, dan juga sebagai bahan renungan untuk semua.. Pernahkah kita berpikir bagaimana masa depan siswa kita, dan menyiapkan mereka untuk masa depan itu? Masa depan disini bukan hanya masa depan sebagai mana cita-cita popular yang disebutkan siswa ketika ditanya apa masa depannya; menjadi dokter, pilot, astronot atau apalah namanya itu. Tapi masa depan untuk menjadi orang ‘hebat’. Orang hebat yang jadi apapun nantinya mereka adalah orang yang mengenal penciptanya dan mengetahui apa yang dikehendaki  Nya padanya. Jadi orang hebat yang bermanfaat untuk diri sendiri, agama, keluarga, masyarakat, dan  bagi semua.

Beranjak dari sini, semoga kita menekuni profesi ini bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau mejadikan profesi ini layaknya profesi di dunia industri tapi benar-benar menjadi orang yang mulia dengan tugas-tugasnya, yang bercita-cita untuk peserta didiknya. Ini memang berat, tapi jika kita memulainya dengan tidak lagi mengatakan bahwa peserta didik bukan anak kita, maka di sanalah peran kita benar-benar dimulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s