Kata

Rupa Tuan
Tuan terbuat dari tenunan apa baju-bajumu?
Sisinya tak bersanding tapi rapih jatuh mengikuti pola ragamu
Tak licin namun lembut menambah kharismamu
Akankah dapat kami temukan tuan
Di butik-butik tempat tinggal kami
Bukan untuk dibeli tapi menghayalkan rupa kami di situ
Atau jangan-jangan tuan tak dapat pula kami lakukan itu
Sebab jauh sekali dari negeri kami tuan datangkan itu

Di ruanganmu
Di ruanganmu kami mengeja ilmu
beralas lapik tembikar coklat
penawar dingin lantai yang merambat
Di ruanganmu
dalam Lipatan kaki penuh jejak-jejak
kami hamparkan cawan hati
untuk kau isi penuh

Tanah Kami
Merah Tanah kami
menyimpan partikel2 material bumi
swah ladang di kaki merapi
Laut2 berombak tinggi
Dan inilah tempat yang diberkati
Menyatulah tulang belulang kami
Pada rahang-rahang semesta
Yang aus tergerus masa
Dan hamba dina ini harus menghiba
Pada Mu sang kuasa

Jeda
Jeda di keheningan
Jeda lisan untuk berpikir
Jeda hati untuk melebur tawadhu
Sejenak jeda
Untuk mengurai ibrah
Dan kembali kepada Nya

Dimata Nya
Hari hari disini terasa begitu lambat
Awan mendung menyelimuti
Hati nan diliputi takut, was-was dan cemas
Terkadang mendung tak terbendung
Terpancar bening dari telaga batin
Ah, harusnya hari ini tak ada lagi ketakutan
Akan keterbatasan akan asa sesuap nasi
dan perputaran roda hidup berikutnya
Melebihi akan ketakutan
Seperti apa kita di mata Nya

Di buta pagi
Di buta pagi sang raga diseret paksa nasib
Meracau hening lelap
Dengan gesekan batu
Mengasapi perapian untuk mesin lambung di siang
Tergesa roda raga
seiring sahutan ayam yang lama tlah berhenti berkokok
kugapai seragam
kuucapkan salam
dengan simpul senyum pada sang murid
tanpa mereka tahu
jari jemari yang menopang kapur
di papan pengabdian ilmu itu
dan kedua tumpuan badan berbungkus sepatu bersemir debu
tak kuasa dijalari panas
di gesekan batu

Budak Devisa
Semilir angin menggidik roma
tiap tiupannya adalah mantra duka
melililit pada raga hina di altar kolong-kolong jazirah
Duhai nan dipertuankan..
Pada duka mereka telah pasrah
Apakah akan Tuan jadikan lagi
mereka budak devisa

Aku Ingin Jadi Murid 2
Aku masih ingin menjadi murid.
-cara belajar kami dulu
meski kata orang sekarang kaku
tapi buatku menyentuh
Dengan dua tangan terlipat diata meja
ekspresif menangkap kata demi kata
Setelah itu berlalu kami akan pulang dengan hati terisi penuh
dan akan kembali lagi dengan semangat baru

Aku ingin jadi murid
Aku ingin menjadi murid
mendengar sang guru berpetuah
Aku ingin menjadi murid
duduk bersama sebaya beseragam sekolah
-biarlah kali ini aku duduk di kursi terdepan
agar jelas betul setiap lekukan petuahnya
bait-bait penekanannya
bulir-bulir peluh yang bersimbah
dari pori-pori keningnya-
Aku ingin jadi murid
agar kutemukan indahnya pengbadian
yang tak kunjung kupunya

Dewa semasa
Di tonggak sejarah sedia kala dialah dewa
mengutus bala tentara
ke sudut-sudut bumi
membagi sekulah jatah
untuk menjarah sesamudera segala
Bala tentara meraja
Dewa tinggallah semasa
Leher terjerat urat-urat usia
Lupa badan tak dewa selama
sekonyong-konyong menyumpah serapah
alpa pula untuk meminta
sebongkah pongah telah tertadah ke atas semesta

Dunia Gila
Dunia sudah gila kurasa
penghuninya latah mengemuka pongah
tak imanen mengemuka hujjah
amnesia pada onggokan epitaf yang
mungkin adalah pesakitan di alam sana

Habis
Habis purnama
Tenggelam cahaya
Menghitam langit
Buram!
Di kelam awan dirintih hujan
Kelam!
Tengadah wajah
Tak lepas tatapan
Dalam keyakinan kan tersibak fajar
Di ufuk sana

Kematian
Kematian
Apa yang engkau pikirkan tentang kematian
Saat jasad berpisah ruh
Saat jiwa meninggalkan tuannya
apa yang kau pikir tentang kematian
Saat materi duniawi  tak berarti
Adakah kau bawa
Dan apa semuanya beguna
Apa yang engkau pikirkan tentang kematian
Saat ruh terserabut
Kemanakah dia menuju  tuju
Oleh itu kau terpaku layu
Ruh melihat  jasad kaku
Disitu kau terburu
Ampunan Robb mu..

Kata Ustadzah
puasa..
menahan haus dan dahaga
begitu kata orang dewasa padaku
dulu aku puasa setengah
namu sekarang sudah penuh
tadi pagi ustadzah bilang padaku
puasa itu juga menahan hawa nafsu
ku tanya apa itu ustadzah
tidak membantah ayah ibu
anakku..

Memetik bintang
Keras ombak daratan
Di langit pancaroba tiba musim
Ah sulit digenggam
Tapi tetap mengepak adalah pilihan
Kelak ingin kudengar kisahmu
Memetik bintang

1 M Yang Jauh

Menyeruput air kelapa beraroma busuk
dari cangkir karatan
menangis usus usus lambung di senja melelahkan
dari petak sederhana terdengar “mak, bapak, katanya banyak derma di ramadhan”
1 meter dari kejauhan
Kulkas-kulkas setinggi badan
Bertelekan packed sari walet, soya bean, crntanium tea, ranum buah2n
aneka hidangan yang kemudian tergelatak antara pinggan
di bak cucian
ya 1 meter teramat jauh..
jauh dari pandangan
jauh dari jangkauan
jauh dari perasaan
“Berbagi itu menentramkan, mari berbagi kawan!!!!!!!

Nisan
Di lereng bumi dua meter perseg
Terpancang nisan itu
Tak ada wewangi minyak mawar
Kuntuman bunga-bunga
Atw tanda-tanda lawatan pusara
Yang ada hanya gundukan batu sederhana
Remah2 kayu yang habis dimakan usia
Rumput2 gajah yang sedang disiangi oleh jari jemari
Jari jemari yang dulunya masih kecil
16 tahun sudah jemari itu..
kini baru bisa mengusap pusaramu

puisi hati
hujan jatuh di dinginnya pagi
kerak kerak es
makin beku di hati
ah, akankah ia luruh??
dengan wajah mentari….
yang samar-samar menjelma
di balik awan putih

Untuk Ibu
Bersenggulung sarung lusuh
perempuan itu menjujung ranting-ranting kayu
masa berlalu masa
namun tak berubah rasa
dicicipi jua pahit yang dulu
roda berputar
namun sebentar jatuh
disingsingkan lagi lengan kasar
untuk anak cucu

Tega (Sebuah Pemberontakan)

Tega kau!
Tega Kau kencingi seragam kami
Mengendus kami membaui pesing lakumu
Lantas kau potong lidah kami
Tanpa sempat berkata-kata
…….
tapi asal kau tahu..
bungkam kami bukan berarti rela
…….
kau rampas
kau sita bagian kami dan anak-anak didik kami
dan tak ada yang kau sisakan
selain..
sampah, sumpah dan serapah

obituari tuan nelayan
selinap kemilau pagi
di tepi plantar gubuk
kampung nelayan
membangunkan lelap mata terpejam
terkejut darah
terhuyung jiwa
biduk telungkup tak bertuan
jejaring terapung timbul tenggelam
ikan ikan kecil mengelilingi jasad lempung tuan nelayan
lautan menderu kabarkan kematian
di depan beranda puan berseragam
berkabung diam tanpa ratapan…

Hujan
titik-titik hujan
jatuh ke selokan
menggenang keruh sepanjang jalan
titik-titik hujan
genangi sumber air kehidupan
bersih, jernih, menyejukkan…

Kufur
Hatiku
Tak lagi pandai bersyukur
Mesi raga tetap sujud sembahyang
Menggerutu aku pada takdir hidup
Yang tak kunjung kupaham
Apakah tlah lekat kekufuran?

Ah kenapa guru
Guru, tak bisa kami menyalami
Lembut tanganmu
Sewaktu jam pelajaran usai
Berbondong-bondong kami ingin menyalami
Tapi
Kau hanya mengembangkan telapak tangan
Yang kotor hitam tinta spidol
Ah, guru kenapakah seperti itu?
Tapi kemudian engkau berkata
Guru tak ingin menularkan
Sesuatu yang kotor padamu

Secangkir coklat dan maut
Secangkir coklat hangat
Ditatih jari jemari gemetar
Gentar mengerucut diburu takut
Secangkir coklat hangat
Ditatih jari jemari gemetar
Gentar tertungkup
Menahan maut

Ssst Ujian…
Burung-burung kecil bertengger
di ventilase jendela kelas
Berjejeran mereka mencicit
Memecah suasana ujian
yang tengah berlangsung
Lalu sambil tersenyum guru berkata
“burung-burung sedang mengejek kalian
Yang kasak kusuk sana sini cari jawaban

Ayah
Ayah..
Hari ini kau diangkat jadi kepala
Kami bahagia
Cita-cita mulia ayah terlaksana
Ayah
Hari ini kau diangkat jadi kepala
Rumah kita dihiasi karangan bunga
Ucapan selamat kolega-kolega ayah
Ayah
Hari ini kau diangakat jadi kepala
Jujur kami takut ayah
Takut tak menemukan sosokmu
Setelah jadi kepala
Sederhana, bersahaja dan apa adanya
Yah
Engkau kini adalah kepala
Kami tak ingin ayah berubah
Kami ingin ayah ingat
di atas ayah masih ada kepala juga
Kepala maha dan segala

Malu berkata tak tahu
Gelagat tubuh berkacak pinggang
Berpikir menerawang
Tergantung
Di langit-langit awan
Sesaat matamu kau pejam
Kuat menggesa memori
Untuk sesuatu yang tak pernah terekam
Kau malu berkata ‘tak tahu’ rupanya kawan


Aku Ingin Tahu Kawan

Kawan
bukan tentang rukuk
Sujud ataupun sembahyang
Juga bukan soal tilawah-tilawah panjang
Karna ku tahu rukuk sujudmu dalam
Namun adakah aku kau tunjuk ajarkan
Tentang perintah Tuhan
Yang selalu kau jalankan
Aku juga ingin tahu itu kawan!

5 thoughts on “Kata

  1. Puisi2 sahabat bagus. coba dikirimkan di koran kompas. biasanya rubrik Puisi dan cerita terbitnya hari ahad. Selamat berkarya untuk masyarakat dan Ummat

  2. Puisi2 sahabat bagus. coba dikirimkan di koran kompas. biasanya rubrik Puisi dan cerita terbitnya hari ahad. Selamat berkarya untuk masyarakat dan Ummat
    +1

  3. Pingback: Free Piano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s