Asumsi

Asumsi adalah praduga terhadap sesuatu yang belum jelas benar atau tidak keberadaannya. Asumsi, perbuatan yang membawa pelakunya terlibat pada wilayah terka menerka. Jika dia disertai cahaya maka asumsi itu akan berguna, jika malah sebaliknya, berasumsi pada ruang serba gelap yang akan menjadikan asumsi itu membutakan mata. Namun lebih sering asumsi menjadi kata yang terkonotasi dengan hal yang negative sadar ataupun tidak.

Berasumsi. Terlebih dahulu berasumsi negative pada seseorang hanya karena sesuatu secara kasat mata yang tidak kita sukai terhadapnya akan menyebabkan banyak diantara kita tak sempat mengenal kepribadian orang-orang yang mungkin saja memiliki kepribadian istimewa. Membuat kesempatan mengenal ragam pengalaman dari orang-orang tersebut jadi terbuang percuma hanya gara-gara asumsi yang terlebih dahulu singgah di benak kita. Dan kita pasti punya carita tentang itu semua, tentang orang yang dulu kita anggap macam-macam tapi ketika telah kenal dan dekat dengannya kita sadar betapa kita salah dengan asumsi kita.

Dalam sebuah ilustarsi yang saya lihat dalam sebuah slide dikisahkanlah seorang wanita yang akhirnya menyesal dengan asumsinya. Seorang wanita yang hendak menunggu jadwal keberangkatan di ruang tunggu bandara mencari tempat duduk di salah satu bangku yang tersedia. Di saat dia duduk dibacalah buku smabil mengudap cemilan yang sempat dibelinya, biscuit. Saat tangannya merogoh biscuit dari bungkuksnya, saat itu pula secara bersamaan tangan seorang pria di sebelahnya melakukan hal yang serupa, mengambil dan memamkan biscuit itu.

Kejadian tersebut membuat si wanita berasumsi betapa kurang ajarnya sang pria. Hingga saat biscuit itu hanya tinggal sekeping saja, sang pria membelah biscuit itu menjadi dua bagian. Melihat hal yang demikian membuat darahnya naik ke ubun-ubun dan dengan marah berlalu meninggalkan pria itu. Sesaat setelah sampai di pesawat yang ditumpanginya, alangkah terkejut dan malunya si wanita ketika mendapati di dalam tasnya masih utuh sebungkus biscuit. Rupanya biscuit yang telah dia makan tadi adalah biscuit pria itu, pria yang tanpa sedikitpun merasa terganggu karena biskuitnya dimakan tanpa izin.

Kawan asumsilah yang membuat wanita tersebut menjadi marah, padahal dia bisa mengecek kembali isi tasnya untuk memastikan bahwa hal aneh yang dialaminya itu benar-benar nyata atau kekeliruan semata. Asumsilah yang menjadikan wanita itu malu dan menyesal terhadap diri sendiri. Andai saja tadi sang pria complain terhadap biscuitnya yang dimakan seenaknya maka apa jadinya si wanita. Jika sang pria melihat dan menanggapi kemarahan wanita itu pasti akan berkata “dasar, sudah menyerobot punya orang, marah pula”

Kawan jangan biarkan asumsi yang salah menghias lembar-lembar perjalanan hidup kita. Asumsilah yang mengahalangi banyak orang untuk menerima kebenaran dien syumul ini. Asumsilah yang menyuburkan paradigma keliru dan antipati di hati mereka. Hati-hatilah terhadap asumsi sebab hanya akan merugikan diri sendiri pada akhirnya. Thomas Alfa Edison punya cerita tentang asumsi ini. Setiap dia akan menerima karyawan baru ia mengundang si pelamar untuk memakan sup. Jika si pelamar menggarami sup tanpa mencicipi dulu rasa supnya maka Thomas Edison tak akan memberikannya pekerjaan. Begitulah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s